Jembrana – Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan yang akan dirayakan di penghujung tahun, Ketua DPRD Kabupaten Jembrana, Ni Made Sri Sutharmi, SM, menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat. Ia mengajak seluruh umat Hindu serta warga Jembrana secara umum untuk menjadikan momentum ini sebagai waktu memperkuat persaudaraan dan memperjelas arah langkah daerah dalam menghadapi tahun mendatang.
Ketua DPRD menegaskan bahwa esensi Galungan–Kuningan tidak hanya terletak pada simbol kemenangan Dharma, tetapi juga pada kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan diri di tengah dinamika sosial dan ekonomi. Menurutnya, suasana religius akhir tahun adalah ruang yang tepat untuk melakukan evaluasi diri dan menghidupkan kembali spirit kebersamaan.
“Galungan–Kuningan adalah cermin bagi kita untuk melihat kembali apa yang sudah kita lakukan selama setahun terakhir. Ini bukan sekadar perayaan religius, tetapi kesempatan untuk menata pikiran dan perilaku. Mari gunakan momen ini untuk merajut kembali sikap saling mendukung dan memperkuat modal sosial kita,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Dalam pesannya, ia turut menyoroti kondisi anggaran daerah yang semakin ketat menuju 2026. Ia mengingatkan bahwa tantangan fiskal harus dihadapi dengan kerja bersama, bukan dengan pesimisme. Sinergi masyarakat dan pemerintah, kata dia, akan menjadi fondasi utama agar pembangunan di Jembrana dapat tetap berjalan dengan terarah.
“Kita akan memasuki masa yang membutuhkan ketelitian dalam menentukan program dan kebijakan. Setiap rupiah harus digunakan secara efektif. Karena itu, persatuan masyarakat menjadi sangat penting. Dengan rasa saling percaya dan gotong royong, keterbatasan bukan lagi hambatan besar,” tegasnya.
Sebagai perempuan pertama yang memimpin lembaga legislatif tingkat kabupaten di Bali, Sutharmi juga berpesan agar perayaan Galungan–Kuningan dilaksanakan dengan tertib dan tidak berlebihan. Ia menilai bahwa kesederhanaan akan menghadirkan suasana lebih damai, sekaligus menjadi wujud kecerdasan spiritual dalam menghadapi perubahan zaman.
“Perayaan yang mengutamakan kedamaian akan memberi dampak lebih besar bagi diri sendiri dan lingkungan. Di tengah kebutuhan masyarakat akan rasa tenang, Galungan–Kuningan bisa menjadi titik temu yang memperkuat jalinan sosial kita,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya menggali dan mengoptimalkan potensi lokal sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan anggaran. Menurutnya, Jembrana memiliki kekuatan besar pada tingkat komunitas—mulai dari desa adat, organisasi perempuan, kelompok pemuda hingga UMKM—yang selama ini menjadi penggerak kehidupan sosial dan ekonomi.
“Daerah kita memiliki banyak potensi. Jika seluruh komponen masyarakat bergerak secara kreatif dan kolaboratif, maka kita tidak hanya bergantung pada APBD. Justru dari komunitas inilah lahir energi perubahan,” jelasnya.
Menutup pesannya, Sutharmi mengajak seluruh masyarakat menjadikan perayaan Galungan–Kuningan sebagai awal konsolidasi menuju tahun baru. Ia berharap setiap warga, di mana pun berada, mampu mengambil peran nyata dalam memperkuat Jembrana.
“Jelang 2026, mari kita hadir dengan hati yang lebih jernih dan sikap yang lebih teguh. Tidak perlu menunggu momentum besar untuk berkontribusi. Mulai dari hal kecil saja, kita sudah ikut memperkuat daerah. Kebersamaan kita adalah pondasi terkuat bagi masa depan Jembrana,” pungkasnya. (&)








